Archive for the ‘Wisata’ Category:

Menyaksikan Moscow Circus di Summarecon Serpong

Written on May 1st, 2010 by admin7 shouts

Sabtu 1 May 2010 kami berkesempatan untuk nonto Mosco circus di Summrecon Serpong Tangerang Banten. Konon ini merupakan pertunjukan sirkus terbesar dan pertama di Asia yang melakukan pertunjukan selama satu bulan penuh dari 16 April hingga 16 Mei di samping Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Banten.

”Ini event terbesar hadir untuk masyarakat,” ujar Direktur Summarecon Serpong, Sharief Benyamin selaku penyelenggara, Sabtu (17/4).

Pertunjukan bertajuk Moscow Circus Russian Folkfair ini diisi berbagai jenis atraksi seperti High flying trapeze, contortionist, hand balancing, hoola hoops, umbrella and clown serta pertunjukkan hewan seperti gajah, harimau dan anjing. Selain menampilkan pemain sirkus dari Rusia, event ini juga dimeriahkan oleh kelompok sirkus tertua di Indonesia Oriental Circus Indonesia.

Pimpinan Moscow Circus, Shzacha Fochs mengatakan dalam atraksi spektakuler ini pihaknya siap menghibur masyarakat Indonesia. ”Berbagai atraksi kelas dunia kami hadirkan,” katanya.

Dalam rombongannya, Shzacha mengajak sekitar 15 orang pemain sirkus yang akan beratraksi high flying trapeze, contortionist, hand balancing, hoola hoops, umbrella and clown.

Moscow Circus didirikan pada 1917, merupakan bagian dari budaya dan sejarah Rusia sejak zaman kekaisaran Rusia pada masa Ratu Chaterine II berkuasa hingga sekarang. ”Saat ini Moscow Circus telah menjadi aset dan duta budaya yang terkenal hingga mancanegara sehingga menjadi acuan pertunjukan sirkus dunia,” kata Shzacha.

Lokasi Moscow Circus berada di samping Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Banten. Pertunjukan berlangsung dari Selasa dan Jumat pukul 18.30 WIB. Pada Sabtu dan Minggu dilakukan empat kali pertunjukkan pada pukul 11.00, 14.30, 17.00 dan 19.30 WIB.

Kapasitas tempat duduk 1.800 yang terdiri dari kelas VVIP dengan harga tiket Rp 300 ribu, VIP Rp 250 ribu, Utama Rp 175 ribu, Kelas I Rp 100 ribu dan Kelas Ekonomi Rp 50 ribu.

Berikut sedikit tips agar anda dan keluarga nyaman menonton pertuntukan menarik ini :

  • Gunakan kartu kredit atau debit BCA; discount 20% weekend dan buy one get one free weekdays.
  • Jika anda berkesempatan nonton pada weekdays, lakukan pemesanan pagi hari karena jika go show kadang tiket sudah habis. Counter tiket mulai buka jam 10.00
  • Jika anda ingin menonton pada saat weekend, datanglah pagi hari jam 10.00 sehingga anda dapat langsung memperoleh tiket jam 11.o0 atau batch berikutnya.
  • Datang lebih awal memberi kesepatan bagi anda dan anak anda untuk menikmati atraksi hewan yang ada disekitar areal sirkus seperti photo bersama harimau, menunggang gajah dan unta, dan banyak lagi lainnya.
  • Cuaca panas selalu siap sedia minuman mineral/kesukaan anda, meskipun banyak makanan dan minumuan tersedia tidak ada salahnya untuk mempersiapkannya dari rumah dengan membelinya  di supermarket terdekat karena harga di arena sirkus  mahal  :) contoh  pulpy orange  Rp 11.000 :(
  • Pintu masuk akan dibuka 30 Menit sebelum pertunjukan dimulai. Untuk mendapatkan tempat duduk strategis sebaiknya anda mengantri diurutan depan :) atau 20 menit sebelum pintu dibuka agar  dapat memilih tempat duduk yang strategis dengan leluasa.

Secara umum, circus moscow ini merupakan hiburan yang menyenangkan untuk keluarga. Selamat menyaksikan !:)

    Full Story » Filed under Berita Kawasan, Wisata Tags:

    “Heritage Trail” ke Pecinan Tangerang

    Written on February 25th, 2010 by adminno shouts

    Libur panjang di akhir pekan ini barangkali bisa jadi kesempatan Anda untuk mengajak putra-putri lebih mengenal sejarah dan budaya yang ada di Jabodetabek. Masih dalam rangka Imlek dan Cap Go Meh, Komunitas Historia Indonesia (KHI) menggelar “Tangerang Heritage Trail” bertema “Menelusuri Sejarah, Menguak Jejak Tionghoa Benteng di Tangerang” pada Sabtu 27 Februari 2010.

    Kenapa Tangerang? Menurut Ketua KHI, Asep Kambali, sederhana saja, karena orang di Jakarta mungkin banyak yang belum tahu bahwa ada kantong Pecinan lain di luar Jakarta, salah satunya, Tangerang. “Jadi kita mau ajak orang, siapa aja yang barangkali belum pernah ke Tangerang, ayo kita lihat ke sana. Di Tangerang kan juga ada Pecinan dan menurut saya lebih bagus ya, lebih kuat Pecinannya,” tandasnya. Selain Jakarta, KHI, imbuhnya, akan terus berusaha menggali kekayaan sejarah dan budaya kota lain.

    Rute trail Sabtu nanti antara lain Sungai Cisadane, Klenteng Boen San Bio, Perkampungan Sewan Kongsi, Bendungan Pintu Air 10, Pameran Imlek Klenteng Tjong Tek Bio, dan Klenteng Boen Tek Bio. “Kita berangkat naik kereta api dari Stasiun Beos. Kumpul di Taman Fatahillah jam 6 pagi. Dari Beos kita naik KRL Benteng Ekspress turun di Stasiun Tangerang, baru kita mulai jalan di sana. Saya berharap semua peserta tepat waktu karena KRL Benteng Ekspress berangkat tepat waktu. Kita kan perlu registrasi, beli tiket, dll, jadi mohon peserta tepat waktu, ” Asep berpesan, tiket seharga Rp 65.000/orang dan bisa menghubungi no HP 0818 0807 3636.

    Sementara itu, menurut salah satu anggota KHI yang juga akan memandu perjalanan, Rinus, ada beberapa versi kisah kedatangan Tionghoa di Tangerang. Satu versi mengatakan,  sebutan Cina Benteng tidak lepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun di pusat Kota Tangerang, tepatnya di tepi Sungai Cisadane, pada zaman kolonial Belanda itu sekarang sudah rata dengan tanah. Pada saat itu, banyak orang Tionghoa Tangerang yang kurang mampu, harus tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul istilah “Cina Benteng”.

    “Versi lain dari kitab Sejarah Sunda, “Tina Layang Parahyang” artinya Catatan dari Parahyangan,  yang sudah menyebut daerah muara Sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara Sungai Cisadane pada tahun 1407. Tujuan awalnya Jayakarta,” lanjut Rinus,  saat itu mereka menyebut wilayah Tangerang dengan nama “Boen-Teng”. Berawal dari sebutan itulah mereka kemudian dijuluki Cina Boen Teng. Julukan itu lama-kelamaan berubah menjadi Cina Benteng yang mayoritas warganya menjalani kehidupan sebagai pedagang kecil, petani, buruh informal atau pencari ikan di pinggir kali.

    Di Tangerang, masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan penduduk setempat dan mengalami pembauran lewat perkawinan sehingga warna kulit mereka terkadang lebih gelap dari Tionghoa yang lain. Istilah buat mereka tak lain adalah “Cina Benteng”. Keseniannya yang masih ada disebut Cokek, sebuah tarian dengan iringan paduan musik campuran Cina, Jawa, Sunda, dan Melayu.

    Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. Belanda, VOC, yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren, dan sebagainya. Di sekitar Tegal Pasir (Kali Pasir), Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur Sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang.

    Beberapa lokasi yang bakal disambangi antara lain, Perkampungan Sewan Kongsi. Kampung ini merupakan salah satu perkampungan Tionghoa Benteng yang masih ada di Tangerang. Asal kata ‘Sewan’ sendiri berasal dari kata ‘Sewaan’ yang diadaptasi sesuai logat masyarakat setempat. Disebut ‘Sewaan’ karena pada zaman kolonial, daerah ini seluruhnya disewakan kepada para tuan tanah, terutama etnis Tionghoa, untuk berkebun. Lokasinya berada di belakang Bendungan Pintu Air 10.  Arsitektur rumah di sini masih tradisional.

    Lokasi lain adalah Bendungan Pintu Air 10. Itu sebenarnya adalah Bendungan Air Sangego atau Bendungan Pintu Air Pasar Baru di Kecamatan Neglasari. Dibangun pada tahun 1927 dan mulai dioperasikan pada tahun 1932 untuk irigasi.

    Klenteng Boen Tek Bio, adalah sasaran lainnya. Klenteng ini berdiri sekitar 1750. Penghuni Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah). PAda awalnya Bio ini hanya berupa tiang bambu dan beratap rumbia, awal abad 19 barulah menjadi kelenteng seperti sekarang ini. Kelenteng inilah yang sejak 1911 menggelar pesta Petjun, lomba balap perahu, di Sungai Cisadane. Kemudian Orba melarang pesta budaya itu. Boen Tek Bio juga punya tradisi mengarak Toapekong, “Gotong Toapekong” dan menggelar wayang langka, Wayang Potehi.

    Sumber : Kompas

    Full Story » Filed under Berita Kawasan, Wisata Tags:

    Suku Baduy, Obyek Wisata Budaya Banten

    Written on November 22nd, 2009 by adminone shout

    Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dijadikan obyek wisata adat budaya yang selama ini cukup banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

    “Kita telah menetapkan Suku Baduy sebagai obyek wisata adat budaya, namun pengelolaannya diserahkan pada pengurus desa setempat,” kata Kepala Bidang Pariwiata Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Periwisata (Disporabudpar) Kabupaten Lebak Djadjat Supardja di Rangkasbitung, Sabtu.

    Karena pengelolaannya diserahkan pada aparatur desa setempat, maka pihak Disporabudpar Lebak tidak memungut retribusi dari para pengunjung ke suku tersebut.

    Wisatawan yang berkunjung ke lokasi itu, sebagian ada yang melapor dulu ke Disporabudpar tapi kebanyakan langsung menuju ke tempat itu dengan menggunakan “guide” dari luar daerah bahkan langsung dari Jakarta.

    “Kalau kita tidak masalah, bagi wisatawan yang akan berkunjung ke lokasi itu mau lapor dulu ataupun langsung silahkan saja, tapi yang penting ketika tiba ke lokasi harus koordinasi dengan aparatur atau tokoh adat setempat,” katanya.

    Disporabudpar juga sering menerima izin penelitian di Suku Baduy dari para mahasiswa luar daerah terutama berasal dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

    Suku Baduy mendiami lokasi seluas 5.101 hektare di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, sekitar 38 km dari Rangkasbitung dengan masa tempuh sekitar 1,5 jam dari ibu kota Kabupaten Lebak itu.

    Suku Baduy dibagi dalam dua bagian yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka merupakan komunitas unik karena tidak mau mengenal modernisasi karena itu dalam kehidupannya tidak ada kesenjangan sosial, tak ada yang miskin dan kaya, semuanya sama.

    Baduy memiliki tata pemerintahan sendiri dengan kepala suku sebagai pemimpinnya yang disebut Puun berjumlah tiga orang yang dibantu delapan orang Jaro yang memiliki fungsi dan tugas masing-masing.

    Banyak larangan yang diatur dalam hukum adat Baduy, di antaranya tidak boleh bersekolah, dilarang memelihara ternak berkaki empat, tak dibenarkan bepergian dengan naik kendaraan, dilarang memanfaatkan alat eletronik, alat rumah tangga mewah dan beristri lebih dari satu.

    Mata pencarian masyarakat Baduy terutama bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian kecil telah mengenal berdagang.

    Full Story » Filed under Wisata Tags:

    Tips Menggunakan Kereta Jabotabek

    Written on November 17th, 2009 by adminno shouts

    NAIK kereta api Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) laksana masuk hutan belantara, apalagi jika Anda orang baru. Petunjuk serba tidak jelas mulai dari gerbang stasiun, peron, hingga di dalam kereta api. Bagaimana caranya agar Anda tidak bingung atau malah tersesat karena naik kereta yang salah atau turun di stasiun yang salah? Simak tips berikut.

    1. Stasiun umumnya minim petunjuk arah. Jika Anda merasa kehilangan orientasi karena Anda orang baru, pastikan dulu orientasi Anda. Sekarang ini di setiap stasiun banyak petugas. Tanyakan pada mereka, misalnya, di mana letak loket untuk membeli tiket, toilet, atau posisi peron menuju ke stasiun tujuan Anda.

    2. Jika Anda berencana jadi pengguna tetap jasa kereta api, di stasiun biasanya ada jadwal. Catatlah jadwal itu. Namun, pastikan bahwa itu merupakan jadwal terbaru yang berlaku. Sebab seringkali jadwal yang tertera di kaca atau papan pengumuman stasiun berbeda dengan praktik yang sedang berjalan.

    3. Kereta sering tidak tepat waktu tetapi tidak pernah mendahului jadwal. Jika Anda tahu jadwal keberangkatan, datanglah beberapa menit sebelum jadwal keberangkatan. Kalau kereta terlambat, itu sudah menjadi nasib Anda.

    4. Belilah tiket. Di dalam kereta, terutama kereta ekspres dan ekonomi AC, selalu ada pemeriksaan tiket. Jika tidak punya tiket Anda diharuskan bayar denda yang nilainya berlipat dan Anda akan dipelototi orang satu gerbong.

    5. Ada tiga jenis kereta rel listrik (KRL) yang beroperasi di Jabotabek yaitu kereta ekspres, ekonomi AC, dan ekonomi non-AC. Pastikan jenis kereta yang Anda dipilih sesuai dengan yang tertera di tiket dan jangan salah naik kereta. Salah naik kereta Anda akan tetap didenda, kecuali jika Anda beli tiket kereta ekspres lalu Anda naik kereta ekonomi.

    6. Jika lupa beli tiket atau terpaksa tidak beli karena Anda tidak sempat, saat membayar denda atau tiket suplisi, mintalah bukti pembayaran.

    7. Tiket jangan dibuang ketika masih di atas kereta karena saat keluar dari stasiun tiket akan diperiksa petugas.

    8. Di dalam kereta tidak ada petunjuk tentang stasiun-stasiun yang akan dilewati. Jika Anda belum mengenal stasiun tujuan, bertanyalah kepada orang di kiri-kanan Anda.

    9. Kereta, terutama kereta ekonomi non-AC, rawan copet. Jika membawa tas atau barang berharga, pastikan itu selalu dalam pengawasan.

    10. Di sejumlah stasiun yang padat penumpang, seperti di Stasiun Tanah Abang, Stasiun Sudirman, dan Kota, calon penumpang biasanya berebut masuk, apalagi kalau tampak banyak kursi kosong. Aksi berebut sering makan korban. Calon penumpang jatuh atau terjungkal bahkan sampai ada yang patah kaki dan tangan. Pastikan Anda tidak berada di pusaran orang-orang yang berebut. Berdirilah agak menjauh dari pintu kereta ketika melihat gelagat orang akan berebut masuk.

    11. Pada
    jam-jam padat penumpang, agar mendapat tempat duduk, sejumlah orang naik kereta yang berlawanan dengan arah tujuan. Misalnya, penumpang kereta api tujuan Bogor di Stasiun Sudirman akan naik kereta itu di Sudirman saat kereta masih menuju ke Tanah Abang. (Kompas)

    Full Story » Filed under Transportasi, Wisata Tags:

    Tips Liburan di Musim Hujan

    Written on November 17th, 2009 by adminno shouts

    Sudah beberapa hari ini Jakarta diguyur hujan. Langit kelabu pun seolah enggan pergi di atas Jakarta. Selamat datang musim hujan.

    Hujan boleh jadi mengganggu kenyamanan waktu liburan bersama keluarga. Tapi, jika kita mempersiapkan diri musim hujan bukan jadi halangan untuk melewatkan liburan. Apa saja yang mesti diperhatikan saat liburan di musim hujan? Berikut panduan singkatnya.

    1. Kenali daerah tujuan. Kondisi di musim hujan di daerah tujuan bisa jadi berbeda satu sama lain. Ada wilayah tertentu yang curahnya hujan tinggi, sementara daerah lain tidak. Di wilayah pegunungan biasanya curah hujan tinggi. Bukan tidak mungkin air dari langit mengguyur tiada henti.

    2. Buat list aktivitas yang nyaman buat Anda. Bagi sebagian orang liburan di dalam ruangan lebih menyenangkan karena tidak terkena hujan. Sementara, bagi sebagian lainnya aktivitas di luar ruangan sambil diguyur hujan justru dirasa lebih seru.

    3. Persiapkan kondisi fisik. Di musim hujan bakteri, virus, kuman, dan jamur tumbuh subur. Penyakit mudah menyerang, terutama mereka yang kondisi fisiknya lemah. Stamina yang bagus tentu membuat tubuh lebih kuat menghadapi serangan penyakit. Baik juga kalau Anda melakukan vaksinasi virus tertentu seperti malarai, demam berdarah, atau flu. Lazimnya vaksinasi dilakukan 1 minggu atau 3 hari sebelum berangkat liburan.

    4. Jangan lupa bawa obat. Obat-obatan ringan akan sangat membantu dalam kondisi-kondisi tertentu. Lazimnya obat-obatan wajib yang biasa dibawa adalah obat sakit kepala, flu, dan diare. Selain itu, lengkapi kotak obat Anda dengan pelengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan seperti obat antiseptik, alkohol, kapas, balsam, minyak gosok, dan lain-lain.

    5. Jangan sepelekan pakaian. Bawalah beberapa baju hangat, sweater, atau jaket. Pastikan pula payung atau jas hujan sudah masuk dalam tas. Tak kalah penting juga pelindung tas (rain cover). Jangan sampai barang-barang penting di dalam tas basah dan rusak. O,iya, jangan lupa kaos kaki. Barang kecil yang satu ini sangat membantu menghangatkan badan di wilayah dingin.

    6. Mandilah sehabis hujan-hujanan meski suhu udara dingin. Bilaslah tubuh dari kepala hingga ujung kaki. Mandi akan menyegarkan tubuh kita. Jika tidak tahan dengan air dingin gunakanlah air hangat. (Kompas)

    Full Story » Filed under Wisata Tags:

    Donggala beach, a great place to snorkel

    Written on August 16th, 2009 by adminno shouts

    Donggala regency in Central Sulawesi is blessed with a magnificent, pristine beach in Banawa district, about 40 kilometers from the provincial capital of Palu.

    Tanjung Karang beach, which to locals is just a white sandy beach, was known 20 years ago only as a resting place for local fishermen after a tiring day at sea.

    There was no access to the area then despite the beautiful white sandy beaches, teeming with coconut farms, spreading along the coast.

    But now, the beach has become a popular tourist destination frequented by residents from Palu and surrounding areas. In holidays especially, it is overrun by local as well as foreign tourists, mostly from European countries.

    Visitors are willing to come to the area now thanks to good access, as it takes only 30 to 45 minutes by car from Palu. Even without its crystal clear waters and pristine V-shaped beach, its natural panoramic view would be breathtaking.

    From the beach, Donggala city, about 3 kilometers away, is clearly visible, as are part of Palu and villages along the western coast of Donggala.

    The night view is even more beautiful with the colorful flickering lights and the beam from a lighthouse at the corner of the cape.

    Visitors can also enjoy the vast view of Palu Bay and Makassar Strait, where ships berth and depart from Pantoloan Port and traditional fishing boats crisscross the bay area.

    At least 200 cars and motorcycles enter the area daily during holidays, according to Muhammad Ikhsan, a ticket attendant at the entrance to Tanjung Karang beach resort.

    The number has risen sharply, especially since the Central Sulawesi provincial administration proclaimed a five-day working week in April last year.

    “The highest numbers of visitors are recorded on Saturdays, Sundays and holidays, when the number can reach into the thousands,” he said.

    To accommodate the needs of visitors, most of whom are families, local residents have built and rented out dozens of simple lodges made of wood and thatch.

    Rates are reasonable, ranging between Rp 100,000 and Rp 300,000 per day. Each cottage has a bedroom, a terrace and a bathroom. Lodge operators offer tourists a range of meal options — mostly seafood — such as grilled fish, fried squid and roast lobster.

    For drinks, they serve coffee, tea and sarabba, a local drink made of ginger and palm sugar with condensed milk, as well as banana fritters.

    Visitors can also sample food, drinks and snacks at modest cafes located around the cottages.

    At Tanjung Karang, there is an upscale resort equipped in the fashion of an upmarket hotel. The resort, called Prince John, is operated by a German businessman based in Palu.

    The owner has also furnished it with a yacht and diving gear, mainly catering to foreign visitors.

    Others seek different diversions.

    “I don’t want to go diving today. I don’t need to rent a yacht to cruise around Tanjung Karang. I just want to rent an inner tube for Rp 3,000 and goggles for Rp 10,000 from Prince John to go snorkeling,” said a local visitor, Muhammad Rizal.

    After snorkeling, he described the beauty and wonder of the coral reefs and colorful fish darting over and in between the coral.

    “I wished I had touched the fish because they were very close to me, and at times they even brushed my hands. It was a wonderful feeling,” said Rizal.

    In a recent conversation with The Jakarta Post, Donggala Regent Habir Ponulele said the beach had been designated as one of the best tourist resorts for developing the regional autonomy in the regency.

    One of the advantages, said Ponulele, was its close proximity to Palu.

    “Foreign visitors need not go to any trouble to reach the site. The moment they arrive, they don’t need to rest but straight away can go diving and snorkeling,” Ponulele said.

    The beach has been chosen as one of the venues for the World Culture Festival, scheduled for Nov. 7 this year.

    Full Story » Filed under Wisata Tags:

    Palu Sulawesi Tengah

    Written on August 9th, 2009 by adminno shouts

    Palu is a city on the Indonesian island of Sulawesi, located 1,650 km northeast of Jakarta, at 0°54?S 119°50?ECoordinates0°54?S 119°50?E. The city sits on the mouth of Palu River, at the head of a long, narrow bay. Because of its sheltered position between mountain ridges, the climate is unusually dry. It is the capital of the province of Central Sulawesi. Palu’s population is approximately 270,000.

    Central Sulawesi Province is beautiful region with its mountain; lakes and dales decorate this area. All the things are tourism potency that becomes a fascination for tourist to visit it. The fascination of main tourism in Central Sulawesi is megalith omission area of historic epoch, which stay in Bada and Besoa, however the natural beauty and sociability of its public become valuable asset for the tourism expansion in this area. Central Sulawesi is one of regional in Indonesia that has compatible solidarity between natural beauties, cultural properties and long history.

    GOVERNMENT ADMINISTRATION AREA
    With the Government system development and people demand in Reformation era who wish the spin-offs of the region become regency, hence the Central government release policy through the constitution number 11 in 2000 about the change of the constitution number 51 in 1999 about the forming of Buol regency, Morowali regency and Banggai Island. Then through the constitution number 10 in 2002 by Central government had formed new regency in Central Sulawesi Province named Parigi Moutong regency. Thereby finite, based on the spin-offs of regency area in Central Sulawesi Propinsi, Become nine region named:
    1. Donggala Regency in Donggala
    2. Poso Regency in Poso
    3. Banggai Regency in Luwuk
    4. Toli-toli Regency in Toli-toli
    5. Palu city domicile in Palu
    6. Buol Regency in Buol
    7. Morowali Regency in Kolonodale
    8. Banggai Archipelago Regency in Banggai
    9. Parigi Moutong Regency in Parigi

    GEOGRAPHICALLY
    Central Sulawesi Province being formed with the constitution number 13 in 1964 laying between 2022′ North Latitude and 3048′ South Latitude and 119022′ East Longitudes. Its region Boundaries is:
    North side: Gorontalo Province
    Eastside: Maluku Province
    Side South: South Sulawesi Province and South-East Sulawesi Province.
    Westside: Makassar Strait

    DEMOGRAPHY
    The area wide of Central Sulawesi Province is 68033 Km2. Administratively, Central Sulawesi Province divided into eight regencies and one town with 85 Districts dan1432 village with number of residents’ 2.215.449 men and density of average level is 29 men/Km2. While the resident growth rate equal to 2,59%. While the resident of Central Sulawesi Province who resided in settlement area of hinterland is 30% coastal area is 60% and archipelago area is 10%.


    Full Story » Filed under Wisata Tags:
    Older Posts »