Archive for the ‘Transportasi’ Category:
NAIK kereta api Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) laksana masuk hutan belantara, apalagi jika Anda orang baru. Petunjuk serba tidak jelas mulai dari gerbang stasiun, peron, hingga di dalam kereta api. Bagaimana caranya agar Anda tidak bingung atau malah tersesat karena naik kereta yang salah atau turun di stasiun yang salah? Simak tips berikut.
1. Stasiun umumnya minim petunjuk arah. Jika Anda merasa kehilangan orientasi karena Anda orang baru, pastikan dulu orientasi Anda. Sekarang ini di setiap stasiun banyak petugas. Tanyakan pada mereka, misalnya, di mana letak loket untuk membeli tiket, toilet, atau posisi peron menuju ke stasiun tujuan Anda.
2. Jika Anda berencana jadi pengguna tetap jasa kereta api, di stasiun biasanya ada jadwal. Catatlah jadwal itu. Namun, pastikan bahwa itu merupakan jadwal terbaru yang berlaku. Sebab seringkali jadwal yang tertera di kaca atau papan pengumuman stasiun berbeda dengan praktik yang sedang berjalan.
3. Kereta sering tidak tepat waktu tetapi tidak pernah mendahului jadwal. Jika Anda tahu jadwal keberangkatan, datanglah beberapa menit sebelum jadwal keberangkatan. Kalau kereta terlambat, itu sudah menjadi nasib Anda.
4. Belilah tiket. Di dalam kereta, terutama kereta ekspres dan ekonomi AC, selalu ada pemeriksaan tiket. Jika tidak punya tiket Anda diharuskan bayar denda yang nilainya berlipat dan Anda akan dipelototi orang satu gerbong.
5. Ada tiga jenis kereta rel listrik (KRL) yang beroperasi di Jabotabek yaitu kereta ekspres, ekonomi AC, dan ekonomi non-AC. Pastikan jenis kereta yang Anda dipilih sesuai dengan yang tertera di tiket dan jangan salah naik kereta. Salah naik kereta Anda akan tetap didenda, kecuali jika Anda beli tiket kereta ekspres lalu Anda naik kereta ekonomi.
6. Jika lupa beli tiket atau terpaksa tidak beli karena Anda tidak sempat, saat membayar denda atau tiket suplisi, mintalah bukti pembayaran.
7. Tiket jangan dibuang ketika masih di atas kereta karena saat keluar dari stasiun tiket akan diperiksa petugas.
8. Di dalam kereta tidak ada petunjuk tentang stasiun-stasiun yang akan dilewati. Jika Anda belum mengenal stasiun tujuan, bertanyalah kepada orang di kiri-kanan Anda.
9. Kereta, terutama kereta ekonomi non-AC, rawan copet. Jika membawa tas atau barang berharga, pastikan itu selalu dalam pengawasan.
10. Di sejumlah stasiun yang padat penumpang, seperti di Stasiun Tanah Abang, Stasiun Sudirman, dan Kota, calon penumpang biasanya berebut masuk, apalagi kalau tampak banyak kursi kosong. Aksi berebut sering makan korban. Calon penumpang jatuh atau terjungkal bahkan sampai ada yang patah kaki dan tangan. Pastikan Anda tidak berada di pusaran orang-orang yang berebut. Berdirilah agak menjauh dari pintu kereta ketika melihat gelagat orang akan berebut masuk.
11. Pada jam-jam padat penumpang, agar mendapat tempat duduk, sejumlah orang naik kereta yang berlawanan dengan arah tujuan. Misalnya, penumpang kereta api tujuan Bogor di Stasiun Sudirman akan naik kereta itu di Sudirman saat kereta masih menuju ke Tanah Abang. (Kompas)
Catatan Admin : Sebuah Catatan Perjalanan Serpong – Baturaja Ogan Komering Ulu.
Menelusuri jalan darat sebagian lintas Sumatera dari Serpong ternyata cukup menantang, apalagi jika ini dilakukan pertama kalinya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Berbekal cerita pengalaman beberapa teman yang beberapa kali melakukan perjalanan darat di Sumatera, kami putuskan untuk memulai “petualangan” ini tepat jam 03.00 pagi dengan harapan dapat menyaksikan sunrise di ferry, tiba di Bakauheni pagi hari, dan tidak terlalu malam tiba di Baturaja, sebuah kota kecil di Sumatera selatan yang menjadi tujuan kami kali ini.
Kondisi Lalulintas
Ferry dari Merak ke Bakauheni rata-rata membutuhkan waktu 2-3 jam, Pelabuhan Merak dan Bakauheni merupakan sebuah contoh pelabuhan yang cukup efektif mengatur lalulintas penumpangnya. Ferry berangkat setiap 36 menit yang dalam kondisi normal akan membuat penumpang perorangan dan kendaraan pribadi tidak akan menunggu terlalu lama untuk diberangkatan. Pelabuhan ini menetapkan harga Rp.201.000 flat untuk mobil penumpang untuk dapat menyebrang sudah termasuk penumpang didalam mobil tersebut.

Sunrise @ Selat Sunda
Jarak tempuh Bakauheni- Baturaja normalnya dapat di tempuh kurang lebih delapan Jam. Kondisi lalu lintas Bakauheni – Bandar Lampung di dominasi oleh truk-truk pengangkut dari Jakarta yang lumayan padat. Lalulintas baru terasa mencair dan sepi setelah persimpangan Jalur Lintas timur dan Tengah, kendaraan yang menuju Palembang akan memilih jalur lintas timur karena lebih dekat. Jalur tengah relatif lebih sepi dengan kondisi jalan yang cukup baik sehingga memungkinkan kita memacu kendaraan dengan cepat.
Selepas Kotabumi, kondisi lalu lintas baru benar-benar sepi dengan pemandangan khas jalur sumatera berupa hutan sawit dan lahan-lahan kosong dengan tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Kondisi inilah yang menjadi rekomendasi beberapa teman untuk berangkat sepagi mungkin dari bakauheni untuk menghindari malam hari di jalur-jalur sepi penduduk.
Secara umum kondisi jalan sebagian lintas sumatera yang kami lalu dalam kondisi yang baik, berbeda dengan di Pulau Jawa, jalur lintas sumatera relatif sepi dengan fasilitas umum bagi pelintas yang terbatas. disarankan untuk memastikan kondisi kendaraan dalam kondisi prima sebelum berangkat.

Lintas Tengah Sumatera
Baturaja
Sebuah kota kabupaten di Ogan komering ulu Sumatera Selatan ini seperti menjawab pertanyaan akan kebutuhan pendidikan anak-anak disepanjang jalur lintas yang kami lalui, di kota ini banyak terdapat kons-kostan yang diisi oleh anak usia SLTA. Merupakan sebuah hal yang lumrah bagi para remaja ini berada jauh dari keluarga mereka demi mengenyam pendidikan lanjutan yang lebih tinggi. Angkutan umum didominasi Ojek yang menerapkan tarif jauh-dekat Rp.3000. Angkotpun dapat diminta untuk mengantar diluar trayeknya dengan tarif sama.
Tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan di kota ini, pertokoan, pasar tradisionil terlihat cukup ramai. Berburu durian mungkin menjadi salah satu pilihan yang menyenangkan. Dengan kisaran harga Rp.5000 sampai dengan Rp.15.000 anda dapat menikmati harumnya durian Sumatera. Banyak penjual durian terlihat di sekitar stasion KA Baturaja dan mereka buka sampai malam hari.
Untuk mengetahui suasana di Baturaja silahkan anda untuk klik disini
Mencoba browsing mencari info mudik 2008 yang lengkap malam ini di dunia maya sepertinya masih sepi… hanya ada info hasil copy – paste yang tidak lengkap, mungkin karena Ramadhan masih memasuki minggu pertama jadi belum banyak media yang mempublikasikannya.
Sambil menunggu info dan data yang lebih “greng”, tidak ada salahnya melirik file-file lama dibawah ini karena sebagai masih lumayan relevan.
Sambil dijalan nanti, tidak ada salahnya juga untuk memantau Elshinta, sebuah adalah radio berita berpusat di Joglo Jakarta Barat. tlp :021-586-9000, fax: 021-585-9000, sms: 0811806543. Radio ini antara H-7 s/d H+7 menyiarkan jalur mudik lebaran setiap jam sekali.
Jika anda memiliki sumber info mudik 2008 yang lebih “sahih” silahkan untuk dishare disini
Selasa sore 20/5 sebagian anak-anak di Gading Serpong bergembira naik delman yang berkeliling di kompleks perumahan mereka. Moda transportasi yang satu ini memang kian tergerus perkembangan jaman dan mulai jarang ditemukan di kota-kota besar. Jikapun ada biasanya sudah beralih fungsi melayani wisatawan di tempat-tempat wisata di Jakarta atau menjadi hiburan anak-anak seperti yang ada di Gading Serpong ini.

Pengoperasioan / uji coba flyover Jl. Sudirman Tangerang yang sudah dimulai sejak 14/4 terbukti mampu mengurangi kemacetan dikawasan tersebut, proyek seharga Rp.42,9 M ini sepertinya “good value” bagi masyarakat penggunanya, apalagi lajur ini merupakan jalur alternatif menuju bandara Soekarno Hatta yang aksesnya sering terputus karena air pasang & banjir.


Bagaimana dengan underpass ciledug ?, baik pemerintah dan masyarakat berharap underpass ini sebagai obat mujarab mengurangi kemacetan, namun sejak dioperasikan awal april lalu ternyata di kawasan penghubung Jakarta Selatan dan Kota Tangerang ini masih saja dilanda kemacetan.
Seperti dikutip dari harian Republika, setelah membangun underpass pemerintah sedang mengkaji untuk membuat terminal untuk mengatasi banyaknya angkot yang berhenti sembarangan di kawasan ini;
Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Pemkot Tangerang, Dadang Durahman, mengatakan pihaknya telah memiliki solusi mengatasi permasalahan tersebut. “Saat ini kami sedang mengkaji wilayah tersebut,” kata Dadang. Ia menyatakan saat ini Pemkot Tangerang berencana membuat jalan-jalan alternatif dan terminal baru. “Rencananya pembangunan terminal akan dimulai tahun 2009 nanti,” kata Dadang.
Bagi kaum urban di Bodetabek yang setiap hari beraktifitas di Jakarta, rasanya memang harus pintar-pintar mensiasati jenis moda transportasi yang harus mereka gunakan sehari-hari guna menuju tempat bekerja mereka.
Begitu juga bagi sebagian masyarakat di Tangerang, Sepeda motor sebagai moda transportasi irit dan bebas macet untuk jarak tertentu akan menjadi tidak masuk akal bagi sebagian orang untuk mengendarainya dari Tangerang menuju Jakarta.
Kemacetan di Jalur ‘tradisional’ Tangerang- Jakarta melalui Daan Mogot & Cileduk dijam-jam berangkat kantor membuat waktu tempuh menggunakan sepeda motor dari Tangerang ke Jakarta tidak akan berbeda jauh dibandingkan menggunakan kendaraan umum / Bus kota. Meskipun macet, rata-rata dalam kondisi normal kemacetan di ruas Tol Kebon Jeruk dapat ditembus dalam kurun waktu 1 jam.
Nah, jika sudah seperti ini sebagian masyarakat yang memiliki sepeda motor akan memilih menggunakan Bus kota karena dapat beristirahat dibandingkan harus ‘berjibaku’ di tengah kemacetan Jl. Daan Mogot atau Ciledug Raya.
Hal inilah yang dimanfaatkan oleh penduduk yang memiliki lahan di Jl. Imam Bonjol disekitar Palm Semi Karawaci Tangerang untuk menyewakan lahan mereka bagi para pemilik motor.
Dengan hanya membayar Rp.2000 para pemilik Sepeda motor dapat memarkir kendaraan mereka seharian dan menggunakan bus kota menuju Jakarta. Sore/malam hari mereka akan turun dari bus kota ditempat yang sama untuk kemudian mengambil motornya dan melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka di seluruh sudut Tangerang.
Menitipkan motor di tempat penitipan ini selain praktis juga cukup menghemat tenaga dan menjaga kondisi badan agar tetap segar begitu tiba dikantor menggunakan bus kota, karena di bus kota itulah para kaum urban ini melanjutkan tidur pagi mereka yang terpotong sampai tiba di tujuan mereka di Jakarta.
Belum lagi genap setahun warga di sepanjang Jalan raya Legok – Karawaci menikmati jalan yang rata, dan belum hilang ingatan betapa “lelah” warga merasakan jalan yang rusak parah serta kemacetan yang sangat pada saat ruas jalan ini dicor. Saat ini di beberapa bagian jalan Legok Raya kembali berlubang.
Pada proses pengecoran akhir tahun 2007 lalu, sepeda motorpun akan kesulitan melewati ruas jalan ini. kendaraan harus antri dan Jarak Karawaci – Legok kadang harus ditempuh hampir 4 Jam ! dengan kondisi panas dan berdebu. Belum lagi jika ada truk pasir yang patah as rodanya melintang di tengah jalan.
Perlahan tapi pasti Ruas jalan ini akan kembali kepada kondisi asli sesuai namanya “Legok” Raya atau “Berlubang” Raya
dalam kurun waktu yang relatif cepat. Keberadaan truk-truk raksasa pengangkut pasir ditenggarai sebagai penyebab rusaknya jalan raya Legok ini.
Entahlah, mungkin karena beban yang terlalu berat ataukah mutu jalan yang kurang,atau ada sebab yang lainnya, yang pasti nama jalan ini sangat sesuai dengan kondisi ruas jalannya : Berlubang Legok Raya.



Kerangan gambar : Paling Atas Ruas yang “terlewat” tidak di cor di Tahun lalu Tengah Kontur Jalan selalu berubah setiap hari karena beban kendaraan Bawah : Melawan Arah Untuk menghindari lubang.
Tulisan terkait lainnya silahkan klik disini
Older Posts »