Usai akad nikah Fadhil langsung minta diri pulang, dan di dalam taxi ia pun menangis sepuas-puasnya. Ia sendiri tidak tahu menangis karena apa? Apakah ia menangis karena sedih bahwa gadis yang dicintainya telah jadi milik orang lain?
Ataukah menangis bahagia karena temannya, zulkifli telah mendapatkan pasangan hidupnya?
Ataukah menangis karena bangga pada dirinya sendiri yang telah berhasil melalui ujian paling berat dalam hidupnya?
Dari pengarang yang sama dengan Ayat-ayat cinta (Habiburrahman El Shirazy), saya memang berharap buku ini ga kalah bagus sama AAC. Kalo AAC dapat point 9, maka buku ini buat saya memiliki nilai 8.5.
Agak berpanjang-lebar (buku ini adalah dwilogi bersambung), tapi isi ceritanya walau tentang (lagi2) cinta, tetap bagus and enak untuk di baca and dijadikan referensi dengan ending yang (tetap) bikin penasaran kepada siapa sang tokoh utama menjatuhkan pilihannya diantara cinta segitiga (segi lima?) yang penuh liku.
Bahwa cinta sejati itu menyembuhkan tidak menyakitkan. Hampir semua orang yang yang jatuh cinta itu merasakan apa yang kau rasakan, rasa untuk memiliki. Dan perasaan seperti itu tidak akan kau bisa keluarkan, kau usir dari hatimu kecuali jika kau memiliki dua hal.
Petama, rasa cinta kepada Allah yang luar biasa yang menggetarkan hatimu. Sehingga ketika yang ada di hatimu adalah Allah, yang lain dengan sendirinya menjadi kecil dan terusir.
Kedua, rasa rindu kepada Allah yang dahsyat sampai hatimu merasa merana. Jika kaumerasa merana karena rindu kepada Allah, kau tidak mungkin merana karena rindu pada yang lain. Jika kau sudah sibuk memikirkan Allah, kau tidak akan sibuk memikirkan yang lain.
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds























BlogoSquare