Kemacetan Jalan Raya Serpong

Macet Hari Ini

Jika anda memperhatikan media masa Nasional beberapa waktu lalu, baik artikel maupun surat pembaca, pasti anda akan menemukan beberapa tulisan yang berhubungan dengan kemacetan jalan Raya Serpong. Untuk Pagi hari, tidak perlu analisa mendalam secara kasat mata penyebab kemacetan itu sudah teridentifikasi yaitu sempitnya jembatan tol kearah Tangerang.

Pada harian Kompas pembahasannya cukup menarik karena melibatkan komentar pengelola Serpong town square. Dalam artikel tersebut terungkap pula upaya manajemen Setos dalam membantu menanggulangi kemacetan sekaligus mengupayakan arus kunjungan masyarakat Serpong dan sekitarnya ke mall tersebut dapat meningkat.

Terlepas dari bergabai upaya yang akan dilakukan, yang jelas sampai hari ini jalan tersebut masih macet dan mudah-mudahan pemerintah dan swasta dapat secepatnya mengurangi kemacetan di jalan protokol tersebut. Pembangunan Jl. Tol Alam Sutera juga diperkirakan akan mengurangi beban Jalan Raya serpong ini sehingga dapat mengurangi kemacetan.
Selain masalah kemacetan, masyarakat Serpong saat ini juga dihadapkan pada bahaya pada saat menyebrang jalan raya Serpong. Sebuah ulasan menarik dibuat oleh Moh. Arif Widarto seorang warga Tangerang dalam tulisannya tentang perlunya Jembatan Penyebrangan orang di Jalan raya serpong ini. 

Semoga seiring pesatnya pembangunan kawasan Serpong ini, perhatian pemerintah dan pengembang besar di kawasan ini dapat lebih ditingkatkan demi kenyamanan warganya.

Posted in Berita Kawasan, Transportasi

5 Responses to “Kemacetan Jalan Raya Serpong”


Marcel May 23rd, 2007 at 4:15 pm

Salam kenal mas. Saya ingin tanya apakah benar ada rencana pembuatan jalan tembus dari Gading Serpong ke Setos shg dari GS bisa masuk tol tangerang tanpa perlu lagi melewati jembatan yang di atas tol.

wd May 24th, 2007 at 12:44 pm

Halo Pak Marcel,

Saya sudah tambahkan link dari kompas utk menjawab pertanyaan anda yang menurut saya merupakan strategi Setos utk “mengundang” pengunjung ke tempat mereka.

Salam,

Admin

christ September 14th, 2007 at 9:14 am

Mo numpang nanya nih..

Itu di pintu masuk dari tol yang langsung ke Gading Serpong..ada pembangunan apa ya?
Gw harap sih underpass biar bisa keluar lgs di SETOS..heheh kan lumayan tuh kalo mo ke Jakarta ga perlu keluar lewat Jl.Raya Serpong…..

Irwan Pahlipi November 3rd, 2008 at 9:58 am

Soal kemacetan memang sudah menjadi ciri serpong saat ini, gak cuma di jembatan kebon nanas nuju Tangerang/tol saja, tetapi melingkupi seluruh wilayah sibuk kab tangerang. Bukan cuma kondisi jalan rusak, sempit, dan fasilitas seperti JPO yang yang memang gak ada, tapi juga mental pemakai dan aparat. Kita bisa lihat kemacetan dari mulai simpang puspiptek/muncul, setiap hari macet panjang. Dulunya dari simpang viktor yang sering macet, tapi karena jalan viktor-ciater rusak tahunan dan makin parah, arus tumpah semua ke muncul. Kalo kemacetan akibat jalan sempit, ada benarnya juga, tapi bisa juga jalan yang dipersempit akibat banyak yang parkir/berhenti di tengah jalan. Dulu simpang muncul sempit, setelah diperlebar tetap macet karena banyak yang parkir, berhenti, muter di persimpangan. Contoh lain, di seberang depan ITC-BSD, sebegitu lebar jalannya kadang macet juga hanya akibat ber-tumpuk2nya angkot parkir nunggu penumpang, parkir di 2 jalur, posisi malang melintang, dan dari parkir saat jalan lagi langsung masuk jalur kanan tanpa pertimbangkan kendaraan lain yang lagi melaju. Ini makanya sering dijaga satpam di sana, juga dikasih pembatas. Hal ini juga dapat ditemui di depan WTC, TIFICO, Giant, dll.
Hal lain penyebab macet adanya U-turn di sekitar WTC dan BJ Mart BSD, banyaknya kendaraan terjebak karena masuk di jalur kanan, ternyata ada U-turn, maksa kembali masuk jalur tengah, bertumbukan dengan yang ada di jalur tengah tsb, akhirnya macet, atau mau muter di U-turn, tapi ambil jalur tengah sehingga menghambat semua kendaraan di jalur tengah tsb.
Hal lain lagi yang paling sering ditemui dimana2 adalah angkot yang berhenti mendadak di tengah jalan, kendaraan lain suruh tunggu atau keluarkan tangan nyuruh kendaraan lain ber-jejal2 masuk ke jalur kanan , atau maksa kendaraan lain masuk ke jalur berlawanan (di serpong banyak jalan 2 arah tanpa pembatas). Karakter ini dapat ditemui di hampir semua wilayah Tangerang kita ini. Mbok ya minggir aja jangan di jalan, tunggu penumpang sampe pagi juga gak apa, tapi jangan ngetem di tengah jalan, kan ganggu kendaraan lain. Saking egoisnya, sudah di tengah jalan, maksa orang lain masuk jalur berlawanan, kadang kendaraan lain ngalah, bahkan gak nglakson mungkin sudah cape karena sudah jamak perilaku tsb, tapi kan mesti nuggu jalur lawan sepi supaya bisa masuk, tapi si angkot malah marah2 karena semua kendaraan di belakangnya gak nurut perintahnya, mestinya begitu dia nyuruh masuk jalur berlawanan, semuanya mesti manut langsung jalan masuk jalur berlawanan meski jalur tersebut lagi ramai, meski beresiko tabrakan atau bikin macet. Kebiasaan lain, angkot kalo lagi nyari penumpang berjalan amat pelan, mungkin 5km/jam, padahal jalanan sempit. Atau suka jalan mundur lagi. Gak peduli samasekali sekelilingnya, mungkin mereka berasumsi, kalo gak ngawur, gak rebutan, gak zalim, ya gak dapat makan. Sebagai penumpang terusterang saya cape kalo sering berhenti, mundur lagi, ngetem, jalan pelan banget, kapan nyampenya, belum sering diakal2i onglkosnya, gak jelas, kadang kembalian dikurang2i, makanya lebih baik beli sepedamotor, mungkin juga sebagian besar orang lain berpikir seperti ini daripada cape duit cape hati, tapi sering ada ketakutan juga dengansegitu banyak sepedomotor penuhi jalan, sebagian besar gak mau tertib, kadang dengan segala kebrutalannya juga.
Karena itu wajar sepedamotor menjadi penyebab macet juga. Sepedamotor sering masuk jalur berlawanan, nyerobot antrean di simpang bahkan di depan hidung polantas cuek aja, atau penuhi jalur berlawanan waktu sedang tunggu lampu merah, bahkan gak mau kurangi kecepatan atau berhenti untuk kasih orang lain menyeberang, baik pejalan kaki ataupun kendaraan lain, meskipun kendaraan lain sudah kasih jalan. Benar2 seperti air, semua tempat kosong diisi. Sering membingungkan mereka ini seharusnya jalan di kiri atau di kanan sih, sering kita temui sepedamotor masuk dan jalan di jalur berlawanan, ada di sebelah kanan dan kiri kendaraan yang sedang berjalan di jalur tsb. Sepedamotor tidak pernah takut kecelakaan, seenaknya jalan di jalur berlawanan, begitu ada kendaran lain di jalur itu, cukup sedikit goyang tapi tetap di jalur berlawanan, atau maksa kendaraan tsb minggir, itu kalo gak ada sepedamotor juga di kiri kendaraan tadi. Kebiasaan lain adalah motong kendaraan lain baik dari kiri maupun dari kanan, mendadak, ngebut. Gerombolan sepedamotor seperti di film mad max menjadi sosok mengerikan, seruduk2, selap selip, bukan hanya jadi momok bagi pengendara mobil saja, tapi juga bagi pengendara sepedamotor spt saya, yang mencoba berkendara dengan akal sehat dan aman.
Pejalan kaki juga punya kontribusi bikin macet, pada tempat2 yang mudah nyeberang, benar2 seenaknya nyeberang, bahkan tanpa melihat kiri kanan.
Dan yang juga bikin macet terutama di jalan2 sempit adalah truk raksasa sebesar dinosaurus, dengan muatan lebih tinggi dari baknya, biasanya truk tanah. Karena muatan berlebih, jalannya amat pelan, body amat besar menyulitkan kendaraan lain mendahului, sambil tumpahkan tanah2 ke sekeliling. Kalo di jalan lebar dikit, jalur paling kanan langganannnya, semua harus maklum dan ikuti aturannya. Tapi kalo lagi kosong, mau secepat2nya, semua harus minggir kasih jalan mereka. Dengan muatan seberat itu, sangat wajar jalan2 di serpong langsung rusak lagi meski baru diperbaiki.
Selama ini infrastruktur yang selalu disalahkan, jadi fasilitas diperbaiki untuk ‘menyelamatkan’ kebiasaan buruk yang gak pernah mau berubah. Intinya satu, gunakan akal sehat. Petugas sudah gak bisa diandalkan untuk jaga ketertiban, bisa jadi juga framethoughtnya juga gak nyampe. Sering banyak yang komentar, sudah jangan saling salahkan, cari aja solusinya. Bener juga, kalo ada angkot berhenti di tengah jalan, jangan disalahkan, cari solusinya supaya gak macet, usahakan kendaraan di belakangnya masuk jalur awan berjejal2 dengan dari arah lawan, yang penting meski susah payah masih bisa jalan, inikan solusinya supaya gak macet total, setidaknya sampe si angkot bersedia jalan lagi dengan legowo. Kalo gak boleh nyalahkan, ya jangan juga nyalahkan infrastrukturnya, cari aja solusinya. Negeri ini, bangsa ini, baik kalangan jelata hingga elit, gak pernah mau nyalahkan atau disalahkan, atau nyari kesalahan yang membuat masalah itu ada, cukup akibatnya aja dicoba cari jalan keluarnya, tanpa perlu mencabut akar masalahnya, karena itu masalah gak pernah selesai, hanya mencoba berkelit dari akibatnya. Karena itu, kalo anak panas akibat radang, makanya dikompres saja, atau makan obat penurun panas, tapi radangnya gak perlu diobati. Karena memang gak mau berubah perangai, gak mau nyadari kesalahan, gak perbaiki diri maupun kolektif.

Yayat suryatna November 25th, 2008 at 7:52 am

wah masalah serpong ini rumit kalo nyangkut perilaku. Infrastruktur bisa diperbaiki, tapi perilaku pemakainya, termasuk perilaku yang buat infrastruktur supaya gak rusak terus, butuh waktu panjang. Oya, katanya jalan rusak terus akibat hujan. Saya baru aja ke LN, di sana kebetulan pas hujan terus selama saya di sana, kok jalannya gak pada langsugn rusak lagi. Mohon kalo ada yang bisa jawab, banyak hal yang sekarang sulit saya pahami di negeri sendiri.



Leave a Reply