Seorang teman berseloroh mengibaratkan jalan tol Jakarta-Merak adalah garis pembatas di kota Tangerang yang membatasi “daerah beradab dan tidak beradab “.

Tentu saja hal tersebut hanyalah sebuah canda. maksudnya, disebelah utara jalan tol terdapat kota tangerang dengan segala ciri khasnya, dan di selatan terdapat Kawasan pengembang swasta  Lippo Karawaci dan Kawasan perumahan Serpong.

CisadaneMemang, jika merujuk pada situasi saat ini dan apalagi membandingkannya dengan daerah kunjungan wisata, wajar jika Tangerang menjadi salah satu kota yang sama sekali tidak pernah dilirik para pelancong, bahkan mungkin dihindari.ÂÂ

Gelar kota terkotor dalam kompetisi piala Adipura seakan mengesahkan kondisi kota Tangerang ini.

” So, we have no interesting place to browse here but hot,dusty & high criminal record, thank god that we still have mall karawaci to spend the weekend with the family near our new residence in Gading Serpong”ÂÂ

Hal tersebut diatas merupakan persepsi saya dihari-hari pertama saya “resmi” menjadi penduduk Tangerang setelah dipindah tugaskan dari Bandung. Benarkah demikian?

Naluri saya mengatakan Tangerang pasti memiliki sesuatu yang menarik, disalah satu minggu pagi (biar nggak gerah..) saya coba menelusuri kota Tangerang berbekal pengetahuan yang minim tentang kota ini.ÂÂ

Setelah berputar-putar melihat pusat kotanya, persinggahan pertama saya di ujung Jl. Ki Samaun yang kemudian saya ketahui bernama “pasar lama”. Pada saat itu saya melihat banyak orang sarapan pagi disini, Saya fikir kawasan ini pasti cukup menarik untuk ditelusuri sambil mencari sarapan pagi. ÂÂ

Berputar-putar dikawasan tersebut, saya lumayan takjub menemukan dua klenteng yang berada dikawasan ini. Kemudian saya mengetahui, adalah klenteng  Boen Tek Bio yang merupakan bangunan PALING TUA di tangerang yang masih ada hingga saat ini didirikan tahun 1684 dan Klenteng Boen San Bio (Nimmala) yang dibangun lima tahun kemudian. Boen Tek Bio

Mencoba menggali Sejarahnya, saya menemukan hal yang menurut saya sangat menarik; anda dapat mendownload e-book Sejarah Tangerang karangan Bapak Wahidin Halim Walikota Tangerang.ÂÂ

Pagi itu saya mencoba batagor yang ternyata kelezatannya tidak kalah jika dibandingkan dengan salah satu batagor terkenal di Bandung. Disekitar tempat saya membeli batagor tersebut banyak pedagang kaki lima yang menawarkan makanan-makanan beragam lainnya dan terlihat dinikmati dengan lahap oleh para pembelinya. Sayang saya sudah cukup kenyang untuk mencoba yang lain.

Saya berfikir pasar lama ini adalah sebuah tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi di Tangerang kota, disamping klenteng tua-nya, Pasar lama juga merupakan cikal bakal kota tangerang dan menawarkan beragam makanan untuk dicicipi bagi anda para pemburu kuliner.

Setelah puas sarapan dan berkeliling dikawasan pasar lama, saya memutuskan untuk pulang melalui jalan Imam Bonjol. Kejutan lain yang saya temukan adalah melihat banyak lapak penjual sea food di pasar Gerendeng tepat disamping Rs. Sari Asih diujung Jl. Imam Bonjol.

Pasar GerendengPada saat itu banyak sekali kepiting-kepiting besar  yang sedang “diikat” oleh para pedagang menggunakan tali rafia. Kepiting tersebut ternyata berasal dari Kalimantan. Selain kepiting banyak ikan laut dan kerang-kerangan yang dijual.

Kerang hijau merupakan oleh-oleh yang menyenangkan pada saat itu apalagi setelah mengetahui harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga kerang di pasar Sinpasa Gading serpong.

Tangerang tetap sebuah kota yang panas dan berdebu dengan tingkat kriminalitas yang tinggi menurut saya, namun menelusuri kawasan pasar lama dan menggali sejarah Tangerang lewat ebooks karangan bapak walikota, membuat saya lebih menghargai kota ini.