Menyaksikan Moscow Circus di Summarecon Serpong

Sabtu 1 May 2010 kami berkesempatan untuk nonto Mosco circus di Summrecon Serpong Tangerang Banten. Konon ini merupakan pertunjukan sirkus terbesar dan pertama di Asia yang melakukan pertunjukan selama satu bulan [...]

Prev 1 Next

Geliat Property di Serpong

Published on March 1st, 2010no comments

LEBIH dari 20 tahun yang lalu, Serpong adalah hamparan hutan karet yang tidak produktif lagi. Tahun 1988, jalan menuju hutan karet ini hanya jalan tanah, tak beraspal. Kalau musim hujan, jalan berubah jadi kubangan, dan pada musim kemarau, debu-debu berterbangan di jalan itu.
Saya ingat ketika pada tahun 1988-1990 saya menjadi wartawan pemula yang ditugaskan di Tangerang, saya sering ke kawasan ini. Di kawasan Serpong, ada dua markas tentara. Yang saya ingat, markas Batalyon Kavaleri-8 Penyerbu merupakan tempat yang paling jauh, paling ujung. Setelah itu, yang terlihat hanya hamparan hutan karet. Pada malam hari, banyak orang enggan melintasi perkebunan karet ini yang gelap. Mungkin legenda Mat Item yang tersohor membuat warga takut berpergian malam hari.

Kawasan Serpong mulai berkembang ketika tahun 1989, Ciputra membangun kawasan Bumi Serpong Damai dan sejak awal sudah disebut sebagai kota mandiri. Peresmian pembangunan BSD pertama kali dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri (waktu itu) Rudini.

Di Bumi Serpong Damai, Ciputra memegang izin lokasi hingga 6.000 hektar. Akses ke Bumi Serpong Damai pun lambat laun mulai terbuka. Saat itu, baru ada jalan tol Kebon Jeruk-Tangerang-Merak. Jarak Bumi Serpong Damai masih relatif jauh dari pusat kota Jakarta. Bisa dijangkau dengan angkutan umum, seperti bus Patas tapi jumlahnya masih terbatas.

Dalam suatu kesempatan pada tahun 1990-an, saya pernah bertanya kepada Pak Ciputra soal perkembangan kawasan ini, dan Pak Ci menjawab saat itu sedang dibangun jalan tol dari Bumi Serpong Damai-Bintaro-Pondok Indah. Pak Ci menjelaskan pula, jalan tol itu akan menyambung ke Citra Raya, salah satu proyek properti milik Pak Ci di Cikupa, Tangerang.

Ketika krisis ekonomi melanda negeri ini tahun 1997, industri properti termasuk yang mati suri. Pembangunan di Bumi Serpong Damai juga terhenti. Juga proyek-proyek properti lainnya, termasuk di Gading Serpong. Mungkin sekitar lima tahun lamanya, industri properti stagnan. Bangunan di Gading Serpong tak terurus lagi.

Bergairah kembali
Tahun 2003-2004, Bumi Serpong Damai beralih kepemilikan. Setelah diambil alih grup Sinarmas, namanya menjadi BSD City. Sementara Gading Serpong diambil alih dua pengembang besar, Summarecon (yang sukses menyulap rawa-rawa di Kelapa Gading menjadi kawasan elit) dan Paramount (perusahaan modal asing dari Singapura, yang sebenarnya bergerak di bidang peralatan rumah sakit, lalu mendirikan perusahaan properti di Indonesia).

BSD dan Gading Serpong berganti kepemilikan. Dan hanya Alam Sutera yang tidak berganti kepemilikan. Setelah tahun 2004, industri properti di Serpong mulai bergairah kembali.

Sinarmas membangun cluster-cluster baru dengan nama asing, mulai dari De Latinos, The Icon, Sevilla, sampai Foresta. Pertimbangan mereka karena alasan permasaran. Lebih mudah memasarkan rumah dengan nama asing daripada nama Indonesia sendiri. Pendapat saya pribadi, nama-nama seperti Giri Loka, Puspita Loka, Griya Loka, Anggrek Loka, Nusa Loka, Kencana Loka, warisan pengembang Ciputra, merupakan nama-nama yang sarat makna.

Kawasan BSD makin berkembang pesat setelah jalan tol BSD-Bintaro-Pondok Indah-TB Simatupang dapat dilalui. Harga rumah di BSD langsung naik dua kali lipat. Dan ketika jalan tol BSD-Pondok Indah-TB Simatupang ini menyambung ke Cikunir, yang memudahkan orang yang akan ke tol Jagorawi maupun tol Cikampek, harga rumah di BSD naik kembali. Pembangunan infrastruktur ini betul-betul membuat BSD kian berkibar.

Sementara itu Grup Summarecon dengan gagah berani membangun mal, pusat perbelanjaan di kawasan permukiman itu. Padahal lokasinya relatif jauh. Sebelumnya memang sudah dibangun jalan tembus langsung dari jalan tol Km 18 Tomang-Tangerang-Merak, menuju permukiman ini. Mal yang diresmikan 28 Juni 2008 ini diisi dengan brand-brand terkenal. Agaknya Summarecon mengajak serta tenant-tenant yang sukses di Kelapa Gading, ke mal baru di Serpong.

Setelah sukses dengan mal tahap pertama, tahun 2010 ini Summarecon Mal Serpong (SMS) akan diperluas lagi, dibangun tahap kedua dengan ukuran kurang lebih sama. Presdir Summarecon Agung Tbk Johannes Mardjuki mengatakan SMS akan dikembangkan sampai tiga tahap.

Summarecon boleh berbangga karena kawasan ini kian berkembang. Grup Kompas Gramedia membangun kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di kawasan ini. Kampus UMN merupakan salah satu daya tarik dan pemacu kawasan ini berkembang.

Pengembang lainnya, Paramount Serpong, selain membangun rumah, juga mengembangkan kawasan komersial dengan membangun hotel bintang empat Aston Paramount dan kawasan pedestrian mirip Orchard Road di Singapura. Tanto Kurniawan yang sebelumnya tangan kanan Ciputra di Grup Jaya, kini memegang Paramount.

Bagaimana dengan Alam Sutera? Alam Sutera selain membangun rumah dan jalan tembus masuk dan keluar tol Tomang-Tangerang, kini sedang membangun mal yang relatif besar. Bangunan fisiknya sudah tampak. Minimal tahun 2011, mal ini sudah dibuka. Tapi sebelumnya, di Alam Sutera dibuka restoran Bandar Djakarta, cabang kedua setelah Ancol. Yang menarik bagi saya, ketika resto ini dibuka pada saat bulan puasa tahun 2009, pengunjung harus antre sampai satu jam!

Nah, terkait dengan kuliner, saya ingin mengatakan bahwa Serpong kini merupakan daerah tujuan wisata kuliner. Mengapa? Saya amati, resto-resto terkenal kini buka di Serpong. Apalagi sejak tahun lalu, dibuka Teras Kota, semacam Citos, di kawasan BSD. Isinya sebagian besar restoran terkenal, mulai dari The Duck King sampai Red Bean.

Di sepanjang Jalan Raya Serpong, ada resto-resto terkenal seperti Bumbu Desa, Telaga Seafood, Pondok Kemangi, Bandar Djakarta, dj’s Kampoeng Aer, Waroeng Sunda, Gado-gado Boplo, Mang Kabayan, sampai makanan khas seperti Pempek Golden. Pempek Pak Raden, Pempek 161, dan aneka masakan lainnya.  Terlalu banyak resto dan warung terkenal untuk disebutkan satu persatu di kolom ini. Tetapi saya ingin menegaskan betapa Serpong saat ini sudah menjadi daerah tujuan wisata kuliner.

Lebih dari itu, Serpong kini merupakan magnet baru dalam dunia properti. Saat ini, dari Serpong, Anda dapat melanjutkan perjalanan melalui jalan tol JORR BSD-Bintaro-Pondok Indah-TB Simatupang yang menyambung ke Cikunir, dan langsung ke tol Cikampek maupun tol Jagorawi.  Dari Serpong juga Anda dapat melanjutkan perjalanan lewat jalan tol Merak-Tangerang-Jakarta, yang tentunya tembus ke tol dalam kota.

Serpong juga memiliki akses cepat yaitu jalur KRL. Setelah PT KA mengoperasikan KRL hingga malam hari, banyak warga Serpong dan sekitarnya yang memanfaatkan KRL ini untuk berangkat kerja dan pulang kerja. Untuk transportasi warga, BSD menyediakan shuttle bus ke Jakarta, yang diminati banyak pengguna.

Namun tidak semua proyek properti di Serpong sukses dan bersinar. Ada juga yang meredup karena pengembang salah membaca pasar dan demand. Serpong Plaza misalnya, kini mati suri. Hidup segan mati tak mau. Untunglah ada restoran buffet Hanamasa yang membuat orang masih mau singgah di sana. Selain itu Serpong Town Square (yang kemudian diganti menjadi CBD Serpong), juga seakan hidup segan mati tak mau. BSD Junction termasuk salah satu yang kurang berhasil. Awalnya direncanakan menjadi pusat gaya hidup dengan banyak restoran ternama, tapi kini terpaksa berubah konsep menjadi supermarket bangunan.

Ketiga properti yang saya sebutkan ini, semuanya menjual kios-kios. Tapi mengapa ITC BSD sukses? ITC bisa jadi pionir, tapi kios-kios model beginian sudah dianggap cukup. Tampaknya pangsa pasar Serpong tidak cocok jika dijejali dengan terlalu banyak kios.

Buktinya ketika TerasKota BSD mengedepankan konsep lifestyle (restoran, sinema, fitness center, toko buku, salon, hotel, tempat ngopi), tempat ini ramai dikunjungi. Blitz Megaplex, Celebrity Fitness, Toko Buku Gramedia, Hotel Santika, Starbucks Coffee, Bengawan Solo Coffee termasuk deretan tenant di TerasKota. Jajan Jazz, salah satu ikon pentas musik BSD,   kini hadir setiap Jumat malam di TerasKota, dalam suasana yang lebih elegan.

Agaknya warga Serpong dan sekitarnya lebih membutuhkan tempat nongkrong yang santai. Ini terbukti betapa ramainya Downtown Walk di Summarecon Mal Serpong pada malam hari. Suasana alfresco dining dengan hiburan live music, membuat banyak orang betah berlama-lama di sana. Suasana serupa juga dapat dinikmati di Flavor Bliss di Alam Sutera. Warga Serpong dan sekitarnya lebih membutuhkan tempat yang mencerminkan gaya hidup modern.

Secara keseluruhan, saya menilai Serpong betul-betul sudah berubah menjadi kawasan emas. Serpong kini bagian wilayah dari Kota Tangerang Selatan, pecahan wilayah dari Kabupaten Tangerang. Serpong dan sekitarnya bakal berkembang lebih pesat bila jalan tol Serpong-Bandara jadi dibangun dalam beberapa tahun mendatang. Serpong betul-betul menjadi magnet. Perkembangan Serpong lebih cepat, lebih dahsyat dibandingkan daerah Bodetabek lainnya. ***

Robert Adhi Ksp adalah editor Kanal Properti Kompas.com

“Heritage Trail” ke Pecinan Tangerang

Published on February 25th, 2010no comments

Libur panjang di akhir pekan ini barangkali bisa jadi kesempatan Anda untuk mengajak putra-putri lebih mengenal sejarah dan budaya yang ada di Jabodetabek. Masih dalam rangka Imlek dan Cap Go Meh, Komunitas Historia Indonesia (KHI) menggelar “Tangerang Heritage Trail” bertema “Menelusuri Sejarah, Menguak Jejak Tionghoa Benteng di Tangerang” pada Sabtu 27 Februari 2010.

Kenapa Tangerang? Menurut Ketua KHI, Asep Kambali, sederhana saja, karena orang di Jakarta mungkin banyak yang belum tahu bahwa ada kantong Pecinan lain di luar Jakarta, salah satunya, Tangerang. “Jadi kita mau ajak orang, siapa aja yang barangkali belum pernah ke Tangerang, ayo kita lihat ke sana. Di Tangerang kan juga ada Pecinan dan menurut saya lebih bagus ya, lebih kuat Pecinannya,” tandasnya. Selain Jakarta, KHI, imbuhnya, akan terus berusaha menggali kekayaan sejarah dan budaya kota lain.

Rute trail Sabtu nanti antara lain Sungai Cisadane, Klenteng Boen San Bio, Perkampungan Sewan Kongsi, Bendungan Pintu Air 10, Pameran Imlek Klenteng Tjong Tek Bio, dan Klenteng Boen Tek Bio. “Kita berangkat naik kereta api dari Stasiun Beos. Kumpul di Taman Fatahillah jam 6 pagi. Dari Beos kita naik KRL Benteng Ekspress turun di Stasiun Tangerang, baru kita mulai jalan di sana. Saya berharap semua peserta tepat waktu karena KRL Benteng Ekspress berangkat tepat waktu. Kita kan perlu registrasi, beli tiket, dll, jadi mohon peserta tepat waktu, ” Asep berpesan, tiket seharga Rp 65.000/orang dan bisa menghubungi no HP 0818 0807 3636.

Sementara itu, menurut salah satu anggota KHI yang juga akan memandu perjalanan, Rinus, ada beberapa versi kisah kedatangan Tionghoa di Tangerang. Satu versi mengatakan,  sebutan Cina Benteng tidak lepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun di pusat Kota Tangerang, tepatnya di tepi Sungai Cisadane, pada zaman kolonial Belanda itu sekarang sudah rata dengan tanah. Pada saat itu, banyak orang Tionghoa Tangerang yang kurang mampu, harus tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul istilah “Cina Benteng”.

“Versi lain dari kitab Sejarah Sunda, “Tina Layang Parahyang” artinya Catatan dari Parahyangan,  yang sudah menyebut daerah muara Sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara Sungai Cisadane pada tahun 1407. Tujuan awalnya Jayakarta,” lanjut Rinus,  saat itu mereka menyebut wilayah Tangerang dengan nama “Boen-Teng”. Berawal dari sebutan itulah mereka kemudian dijuluki Cina Boen Teng. Julukan itu lama-kelamaan berubah menjadi Cina Benteng yang mayoritas warganya menjalani kehidupan sebagai pedagang kecil, petani, buruh informal atau pencari ikan di pinggir kali.

Di Tangerang, masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan penduduk setempat dan mengalami pembauran lewat perkawinan sehingga warna kulit mereka terkadang lebih gelap dari Tionghoa yang lain. Istilah buat mereka tak lain adalah “Cina Benteng”. Keseniannya yang masih ada disebut Cokek, sebuah tarian dengan iringan paduan musik campuran Cina, Jawa, Sunda, dan Melayu.

Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. Belanda, VOC, yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren, dan sebagainya. Di sekitar Tegal Pasir (Kali Pasir), Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur Sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang.

Beberapa lokasi yang bakal disambangi antara lain, Perkampungan Sewan Kongsi. Kampung ini merupakan salah satu perkampungan Tionghoa Benteng yang masih ada di Tangerang. Asal kata ‘Sewan’ sendiri berasal dari kata ‘Sewaan’ yang diadaptasi sesuai logat masyarakat setempat. Disebut ‘Sewaan’ karena pada zaman kolonial, daerah ini seluruhnya disewakan kepada para tuan tanah, terutama etnis Tionghoa, untuk berkebun. Lokasinya berada di belakang Bendungan Pintu Air 10.  Arsitektur rumah di sini masih tradisional.

Lokasi lain adalah Bendungan Pintu Air 10. Itu sebenarnya adalah Bendungan Air Sangego atau Bendungan Pintu Air Pasar Baru di Kecamatan Neglasari. Dibangun pada tahun 1927 dan mulai dioperasikan pada tahun 1932 untuk irigasi.

Klenteng Boen Tek Bio, adalah sasaran lainnya. Klenteng ini berdiri sekitar 1750. Penghuni Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah). PAda awalnya Bio ini hanya berupa tiang bambu dan beratap rumbia, awal abad 19 barulah menjadi kelenteng seperti sekarang ini. Kelenteng inilah yang sejak 1911 menggelar pesta Petjun, lomba balap perahu, di Sungai Cisadane. Kemudian Orba melarang pesta budaya itu. Boen Tek Bio juga punya tradisi mengarak Toapekong, “Gotong Toapekong” dan menggelar wayang langka, Wayang Potehi.

Sumber : Kompas

Working Remotely From Summarecon Mal Serpong

Published on February 6th, 2010no comments

 


W3Camp Developer Working @ SMS

W3Camp Developer Working @ SMS

Virtual or home based office is now becoming more common in Indonesia, Thanks to the internet  who has created unlimited opportunties to all Entrepreneur especially in Serpong Tangerang Indonesia :)

 

Pembuatan Toko Online Murah Untuk UKM Indonesia Dilayani Dari Gading Serpong

Published on January 19th, 2010no comments
W3camp

W3camp

Worldwide Web Camp Indonesia yang berkedudukan di Gading Serpong menggelar promo awal tahun kepada para UKM dan masyarakat indonesia yang ingin memulai usaha dan  memasarkan  produk dan jasanya di Internet. Promo awal tahun ini sengaja digelar melihat maraknya animo masyarakat untuk mulai memasuki dunia online.

Seperti kita ketahui, pengguna internet merupakan sebuah pasar global yang berkembang sangat pesat. Di Indonesia saja, menurut situs www.internetworldstats.com yang mengutip data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indoneia pada tahun 2008 tercatat lebih dari 25juta pengguna internet di Indonesia dari populasi 237juta penduduk Indonesia.

Padahal pada tahun 2000, pengguna internet di Indonesia masih sekitar 2 juta orang.

Kini akses internet semakin murah sehingga semakin banyak penduduk Indonesia memiliki akses ke dunia maya tersebut termasuk pelanggan potensial anda .

Jadi tunggu apalagi silahkan untuk mendapatkan layanan toko online murah  dari Worldwide web Camp Indonesia (W3Camp)  dengan klik  disini.

Bloger Benteng Kopdar Desember 2009

Published on January 13th, 2010one comment
Kopdar Blogger Benteng di WTC Matahari Serpong

Antown, Adri, Anggara, & Pandeg @ Kopdar Blogger Benteng WTC Matahari Serpong Desember 2009

Kopdar Bloger Benteng Desember 2009 @ WTC Matahari

Kopdar Bloger Benteng Desember 2009 @ WTC Matahari

Pasar Modern Sinpasa Gading Serpong

Published on December 25th, 2009one comment

Easy weekend @ Sinpasa Gading Serpong, while awaiting your wife buy some stuffs.  A cup of coffe and a morning news paper would make your lazy weeked more prefect :)

Coffee Corner @ Sinpasa Gading Serpong

Coffee Corner @ Sinpasa Gading Serpong